Monday 8 December 2025 - 23:13
Fatimah Zahra, Inspirasi Hidup bagi Kemajuan Perempuan Modern

Hawzah/ Wakil Rektor Bidang Penelitian Universitas Internasional Ahlulbait (as) menegaskan: apabila teladan komprehensif perempuan Muslim, yakni sosok Sayidah Fatimah Zahra (sa), tidak diperkenalkan dengan benar, maka ruang akan terbuka bagi munculnya figur-figur yang parsial dan merusak. Kekosongan ini, ujarnya, dapat menjadi awal dari runtuhnya fondasi budaya.

Berita Hawzah – Dr. Sara Ardeshir Larijani, Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Teknologi Universitas Internasional Ahlulbait (as), dalam acara peringatan Hari Mahasiswa yang digelar pada hari Senin di kampus tersebut, menegaskan bahwa Imam Khomeini (ra) dalam pemikiran dan sikapnya sangat dipengaruhi oleh maktab Fathimiyah. Dengan inspirasi dari madrasah bercahaya ini, beliau mendefinisikan peran perempuan bukan di pinggiran, melainkan di jantung masyarakat, dan membuka jalan baru bagi pertumbuhan ilmiah, sosial, serta spiritual perempuan Iran.

Dalam peninjauan sejarah, Larijani menyoroti posisi perempuan di berbagai peradaban. Ia menyebutkan bahwa kajian sosial menunjukkan perempuan di banyak peradaban menghadapi pola ketidakadilan. Di India, Tiongkok, Yunani, dan Romawi kuno, perempuan dianggap sebagai makhluk kelas bawah, sejajar dengan budak. Di Iran kuno, posisi perempuan mengalami pasang surut: pada masa Zoroaster, perempuan memiliki kedudukan tinggi dan menjadi audiens nabi, namun setelah invasi Aleksander dan masuknya tradisi keras berbasis kelas, kedudukan mereka dibatasi.

Larijani menambahkan, dalam agama-agama Abrahamik yang mengalami distorsi, perempuan sering ditempatkan pada posisi sekunder. Dalam Injil, relasi laki-laki dan perempuan digambarkan dengan superioritas laki-laki atas perempuan, sebagaimana Kristus atas gereja. Pada masa Jahiliyah, kondisi lebih buruk lagi: praktik mengubur bayi perempuan hidup-hidup, mewariskan perempuan, dan meniadakan hak kepemilikan hanyalah sebagian contoh.

Wakil Rektor Bidang Penelitian Universitas Internasional Ahlulbait (as) menegaskan bahwa di era modern, meski ada kemajuan lahiriah, kapitalisme ekstrem menjadikan tubuh dan identitas perempuan sebagai komoditas. Industri kecantikan, media komersial, dan ekonomi hiburan mereduksi nilai perempuan menjadi sekadar daya tarik visual. Sementara itu, sebagian arus feminisme dengan penekanan berlebihan pada independensi mutlak individu justru melemahkan ikatan keluarga dan merapuhkan institusi rumah tangga.

Ia menekankan: “Dulu, sisi kemanusiaan perempuan telah dilupakan; kini, sisi kewanitaan beserta peran dan misi alaminya sedang dilupakan.”

Ia menambahkan bahwa Sayidah Fatimah (sa) memiliki kedudukan maksum, baik dalam menerima hakikat ilahi maupun dalam ucapan dan perilaku. Ayat Tathir dan Hadis Tsaqalain menegaskan hal ini. Nabi Muhammad (saww) menamainya Shiddiqah Kubra, sebuah gelar yang menunjukkan keunggulan beliau atas Maryam (sa). Menurut Larijani, Mushaf Fatimah (sa) adalah hasil wahyu non-tasyri’i yang disampaikan oleh Jibril kepada beliau.

Larijani menekankan: “Sayidah Fatimah (sa) adalah teladan abadi. Imam Mahdi (afs) dalam sebuah tauqi’ mulia menegaskan: putri Rasulullah adalah teladan terbaik bagi saya.”

Ia memperingatkan bahwa jika teladan komprehensif perempuan Muslim, yakni sosok Fatimah Zahra (sa), tidak diperkenalkan dengan benar, maka akan muncul figur-figur parsial dan merusak, yang dapat menjadi awal keruntuhan budaya.

Tags

Your Comment

You are replying to: .
captcha